Di berbagai majelis zikir dan shalawat, khususnya di Indonesia, Malaysia, dan beberapa negara Muslim lainnya, Shalawat Nariyah menjadi salah satu bacaan yang sangat dikenal. Sebagian umat Islam membacanya setiap hari, ada pula yang melantunkannya secara berjamaah dalam jumlah tertentu sebagai bagian dari doa dan munajat kepada Allah.
Di sisi lain, Shalawat Nariyah juga sering menjadi bahan diskusi di kalangan umat Islam. Ada yang bertanya tentang asal-usulnya, siapa penyusunnya, hingga bagaimana pandangan para ulama terhadap pengamalannya.
Lalu, sebenarnya bagaimana sejarah Shalawat Nariyah? Apakah lafaznya berasal langsung dari Nabi Muhammad ﷺ? Dan bagaimana sebaiknya seorang muslim menyikapinya?
Apa Itu Shalawat Nariyah?
Shalawat Nariyah adalah salah satu bentuk shalawat yang disusun oleh ulama setelah masa Rasulullah ﷺ. Dalam tradisi keilmuan Islam, shalawat seperti ini dikenal sebagai shalawat ghairu ma’tsurah, yaitu shalawat yang lafaznya tidak diriwayatkan langsung dari Rasulullah ﷺ, tetapi disusun oleh para ulama sebagai doa dan ungkapan cinta kepada beliau.
Nama “Nariyah” sendiri populer di kawasan Asia Tenggara. Di beberapa wilayah lain, shalawat ini juga dikenal dengan nama Shalawat Tafrijiyah, karena isinya berisi permohonan kepada Allah agar berbagai kesulitan dan kesempitan hidup diberikan jalan keluar.
Siapa Penyusun Shalawat Nariyah?
Sebagian literatur menyebut bahwa Shalawat Nariyah dinisbatkan kepada Muhammad ibn Sulayman al-Jazuli, seorang ulama dan sufi dari Maroko yang juga dikenal sebagai penyusun kitab Dala’il al-Khayrat, salah satu karya paling terkenal tentang shalawat kepada Rasulullah ﷺ.
Namun, terdapat pula pendapat lain yang menyatakan bahwa lafaz tersebut berkembang melalui tradisi para ulama dan tidak dapat dipastikan secara mutlak berasal dari satu penyusun tertentu.
Karena itu, para peneliti sejarah Islam umumnya berhati-hati dalam menetapkan asal-usul Shalawat Nariyah. Yang lebih penting adalah memahami isi dan maknanya serta memastikan bahwa pengamalannya tetap berada dalam koridor akidah Islam.
Mengapa Disebut Shalawat Nariyah?
Kata Nariyah berasal dari bahasa Arab yang berarti “api”. Dalam tradisi masyarakat, nama ini dikaitkan dengan keyakinan bahwa doa kepada Allah melalui bacaan shalawat ini dapat menjadi sebab datangnya pertolongan Allah dengan cepat, sebagaimana cepatnya api menyala.
Sementara nama Tafrijiyah berasal dari kata faraj, yang berarti kelapangan atau jalan keluar dari kesulitan.
Perlu dipahami bahwa dalam ajaran Islam, yang memberikan pertolongan hanyalah Allah. Shalawat bukanlah sumber kekuatan itu sendiri, melainkan salah satu bentuk doa dan ibadah yang diharapkan menjadi sebab turunnya rahmat dan pertolongan dari Allah.
Makna yang Terkandung dalam Shalawat Nariyah
Isi Shalawat Nariyah berfokus pada beberapa hal penting.
Pertama, memohon agar Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Rasulullah ﷺ.
Kedua, memohon kepada Allah agar berbagai kesulitan diberikan jalan keluar, kebutuhan dipenuhi, dosa diampuni, dan berbagai kebaikan dilimpahkan.
Dengan demikian, inti shalawat ini tetap berupa doa kepada Allah, disertai penghormatan kepada Rasulullah ﷺ.
Makna tersebut mengajarkan bahwa seorang muslim selalu menggantungkan harapannya kepada Allah, sambil memperbanyak shalawat sebagai bentuk cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Bagaimana Pandangan Ulama?
Pandangan ulama mengenai Shalawat Nariyah pada dasarnya dapat dipahami dalam dua sisi.
Banyak ulama dari kalangan Ahlus Sunnah membolehkan membaca Shalawat Nariyah selama isi bacaan dipahami sebagai doa kepada Allah dan tidak mengandung keyakinan yang bertentangan dengan tauhid. Mereka memandangnya sebagai bagian dari tradisi ulama dalam memperbanyak shalawat kepada Rasulullah ﷺ.
Di sisi lain, sebagian ulama memilih untuk lebih mengutamakan shalawat yang lafaznya diajarkan langsung oleh Rasulullah ﷺ, seperti Shalawat Ibrahimiyah. Mereka mengingatkan agar umat Islam tidak meyakini adanya keutamaan khusus suatu bacaan tanpa dalil yang sahih.
Perbedaan pandangan ini merupakan bagian dari khazanah keilmuan Islam. Karena itu, hendaknya disikapi dengan ilmu, adab, dan saling menghormati, tanpa mudah menyalahkan pihak lain yang memiliki dasar pendapat yang dapat dipertanggungjawabkan.
Bagaimana Adab Mengamalkannya?
Bagi seorang muslim yang ingin membaca Shalawat Nariyah, ada beberapa adab yang perlu dijaga.
Pertama, niatkan sebagai bentuk cinta kepada Rasulullah ﷺ dan doa kepada Allah, bukan sebagai bacaan yang diyakini memiliki kekuatan tersendiri.
Kedua, tetap mendahulukan amalan-amalan yang secara jelas diajarkan oleh Rasulullah ﷺ, seperti membaca Shalawat Ibrahimiyah, dzikir, dan doa-doa yang sahih.
Ketiga, jangan menjadikan jumlah bacaan tertentu sebagai kewajiban agama jika tidak memiliki dasar yang kuat dalam syariat.
Keempat, menghormati perbedaan pendapat ulama dan tidak menjadikan persoalan ini sebagai alasan untuk saling mencela.
Shalawat yang Terpenting adalah yang Menghidupkan Cinta kepada Rasulullah ﷺ
Pada akhirnya, inti dari setiap shalawat adalah menghadirkan rasa cinta kepada Rasulullah ﷺ.
Banyak membaca shalawat akan lebih bermakna jika diiringi dengan usaha mengikuti sunnah beliau, memperbaiki akhlak, menjaga lisan, dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah.
Karena ukuran cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan hanya banyaknya lafaz yang diucapkan, tetapi juga sejauh mana ajaran beliau hidup dalam perilaku kita sehari-hari.
Kesimpulan: Memahami Sebelum Mengamalkan
Shalawat Nariyah merupakan salah satu bentuk shalawat yang tumbuh dalam tradisi keilmuan Islam dan diamalkan oleh banyak kaum muslimin di berbagai belahan dunia.
Sebagai bagian dari tradisi ulama, ia memiliki nilai sejarah dan makna spiritual yang penting bagi sebagian umat Islam. Namun, pemahamannya perlu disertai dengan ilmu agar tidak berkembang menjadi keyakinan yang tidak memiliki dasar.
Yang terpenting, seorang muslim hendaknya selalu menjaga keseimbangan antara memperbanyak shalawat, mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ, dan tetap menempatkan Allah sebagai satu-satunya tempat memohon pertolongan.
Karena pada akhirnya, tujuan dari setiap shalawat bukan hanya memperindah lisan, tetapi juga mendekatkan hati kepada Rasulullah ﷺ dan menguatkan hubungan kita dengan Allah.
Leave a comment