Lima kali sehari, suara azan berkumandang dari masjid-masjid di seluruh dunia. Kalimat “Allahu Akbar” menjadi panggilan yang mengajak umat Islam meninggalkan kesibukan dunia untuk menghadap Allah.
Bagi umat Islam hari ini, azan terasa begitu melekat dalam kehidupan. Hampir tidak pernah kita mempertanyakan dari mana asal mula syariat ini. Padahal, menariknya, azan tidak langsung disyariatkan sejak awal Islam.
Pada masa-masa awal dakwah di Makkah, kaum muslimin telah melaksanakan shalat, tetapi belum memiliki panggilan khusus untuk mengumpulkan jamaah.
Lalu bagaimana akhirnya azan menjadi syiar Islam yang kita kenal hingga hari ini?
Jawabannya bermula dari sebuah mimpi yang dialami oleh seorang sahabat bernama Abdullah ibn Zayd r.a.
Shalat Sudah Ada, Tetapi Belum Ada Panggilan
Pada periode Makkah, jumlah kaum muslimin masih sedikit. Mereka sering melaksanakan shalat secara sembunyi-sembunyi karena tekanan kaum Quraisy.
Setelah Rasulullah ﷺ hijrah ke Medina, jumlah umat Islam bertambah dengan pesat. Kaum muslimin mulai berkumpul untuk melaksanakan shalat berjamaah.
Namun muncul persoalan baru.
Bagaimana cara memberitahukan waktu shalat kepada seluruh masyarakat?
Saat itu belum ada pengeras suara.
Belum ada jam.
Belum ada aplikasi pengingat seperti sekarang.
Rasulullah ﷺ dan para sahabat kemudian mulai memikirkan cara terbaik agar umat Islam mengetahui waktu shalat.
Berbagai Usulan Pernah Muncul
Para sahabat mengajukan beberapa usulan.
Ada yang mengusulkan menggunakan lonceng seperti umat Nasrani.
Ada pula yang mengusulkan meniup terompet sebagaimana tradisi sebagian kaum Yahudi.
Ada juga yang mengusulkan menyalakan api di tempat tinggi agar masyarakat mengetahui waktu shalat.
Namun Rasulullah ﷺ belum mengambil keputusan.
Beliau tidak ingin syiar Islam sekadar meniru tradisi umat lain.
Beliau menunggu petunjuk dari Allah.
Mimpi yang Mengubah Sejarah
Suatu malam, Abdullah bin Zaid r.a. bermimpi bertemu seseorang yang membawa lonceng.
Dalam mimpi tersebut, Abdullah menawarkan diri untuk membeli lonceng itu sebagai penanda waktu shalat.
Namun orang tersebut justru berkata,
“Maukah aku tunjukkan sesuatu yang lebih baik daripada itu?”
Kemudian ia mengajarkan lafaz azan yang hari ini dikenal oleh seluruh umat Islam.
Keesokan harinya, Abdullah bin Zaid segera menemui Rasulullah ﷺ dan menceritakan mimpinya.
Beliau mendengarkan dengan saksama.
Tak lama kemudian, Rasulullah ﷺ menyampaikan bahwa mimpi tersebut adalah mimpi yang benar dan merupakan petunjuk dari Allah.
Mengapa Bilal yang Mengumandangkan Azan Pertama?
Setelah lafaz azan ditetapkan, Rasulullah ﷺ meminta Bilal ibn Rabah r.a. untuk mengumandangkannya.
Mengapa bukan Abdullah bin Zaid yang bermimpi?
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa Bilal memiliki suara yang lebih lantang dan lebih indah.
Pilihan ini mengajarkan satu hal penting.
Dalam Islam, setiap orang memiliki kelebihan yang berbeda.
Abdullah mendapatkan kemuliaan melalui mimpi tersebut.
Bilal mendapatkan kehormatan sebagai muazin pertama dalam sejarah Islam.
Keduanya memiliki peran yang sama-sama mulia.
Azan Bukan Sekadar Penanda Waktu
Sering kali kita menganggap azan hanyalah tanda masuknya waktu shalat.
Padahal setiap kalimat dalam azan mengandung makna yang sangat dalam.
Azan dimulai dengan pengagungan kepada Allah.
Kemudian diikuti dengan syahadat yang menegaskan keesaan Allah dan kerasulan Muhammad ﷺ.
Setelah itu datang panggilan,
“Hayya ‘alash-shalah.”
Mari menuju shalat.
Kemudian,
“Hayya ‘alal-falah.”
Mari menuju kemenangan.
Menariknya, Islam tidak mengatakan “marilah menuju kewajiban.”
Yang diajak adalah menuju keberuntungan.
Karena shalat sejatinya bukan beban, melainkan jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Mengapa Azan Begitu Menyentuh Hati?
Banyak muslim merasakan ketenangan ketika mendengar azan.
Bahkan orang yang sedang sibuk sering kali berhenti sejenak ketika suara azan berkumandang.
Hal itu bukan hanya karena keindahan suaranya.
Tetapi karena azan adalah panggilan yang telah menyatukan umat Islam selama lebih dari 14 abad.
Kalimat yang sama dikumandangkan di berbagai penjuru dunia.
Dari desa kecil hingga kota metropolitan.
Dari Asia hingga Afrika.
Semuanya mengucapkan kalimat yang sama.
Itulah salah satu bentuk persatuan umat Islam.
Pelajaran Besar dari Kisah Azan
Kisah lahirnya azan mengajarkan banyak hal.
Pertama, Rasulullah ﷺ selalu bermusyawarah sebelum mengambil keputusan.
Kedua, beliau tidak terburu-buru menetapkan sesuatu sebelum memperoleh petunjuk yang jelas.
Ketiga, Allah bisa memberikan ilham kepada hamba-Nya dengan cara yang tidak disangka-sangka.
Dan yang paling penting, setiap syariat dalam Islam memiliki hikmah yang mendalam.
Tidak ada yang ditetapkan tanpa tujuan.
Kesimpulan: Panggilan yang Terus Menggema Hingga Hari Ini
Lebih dari empat belas abad telah berlalu sejak Bilal bin Rabah mengumandangkan azan pertama.
Namun hingga hari ini, kalimat yang sama masih terus terdengar dari jutaan masjid di seluruh dunia.
Azan bukan sekadar panggilan menuju shalat.
Ia adalah panggilan untuk kembali mengingat Allah di tengah kesibukan dunia.
Ia adalah pengingat bahwa sehebat apa pun aktivitas manusia, akan selalu ada waktu untuk berhenti sejenak dan kembali kepada Sang Pencipta.
Mungkin kita telah mendengar azan ribuan kali sepanjang hidup.
Namun setelah mengetahui kisah di balik lahirnya syariat ini, semoga setiap kali suara azan berkumandang, hati kita tidak lagi hanya mendengarnya.
Tetapi juga memahami bahwa itu adalah undangan langsung dari Allah untuk mendekat kepada-Nya.
Leave a comment