Setiap pagi, jutaan orang berangkat bekerja dengan harapan yang sama: mendapatkan rezeki yang halal untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ada yang mengenakan seragam kantor, membuka toko, mengemudikan kendaraan, mengajar di sekolah, hingga menjalankan bisnis dari rumah.
Namun di balik semua aktivitas itu, tidak sedikit hati yang dipenuhi kegelisahan.
“Bagaimana kalau saya kehilangan pekerjaan?”
“Bagaimana kalau bisnis ini gagal?”
“Apakah rezeki saya akan cukup untuk keluarga?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sangat manusiawi. Terlebih di era yang penuh ketidakpastian, ketika perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (AI), dan perubahan ekonomi membuat banyak profesi berubah dengan cepat. Sebagian orang bahkan mulai khawatir bahwa pekerjaan mereka suatu hari akan tergantikan oleh mesin.
Di tengah kecemasan itu, Islam menghadirkan sebuah kabar yang menenangkan sekaligus mengajarkan tanggung jawab.
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa rezeki setiap manusia telah ditetapkan oleh Allah, tetapi pada saat yang sama manusia tetap diperintahkan untuk berusaha sebaik mungkin.
Lalu bagaimana memahami dua hal yang tampak berbeda ini?
Hadis tentang Rezeki yang Telah Ditetapkan
Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ketika seorang manusia masih berada di dalam kandungan ibunya, Allah mengutus malaikat untuk mencatat beberapa perkara penting.
Di antaranya adalah umur, amal, ajal, dan rezekinya.
Hadis ini diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, sehingga menjadi salah satu landasan penting dalam akidah Islam mengenai takdir.
Mendengar hadis ini, sebagian orang kemudian bertanya,
“Kalau rezeki sudah ditentukan, mengapa kita harus bekerja keras?”
Pertanyaan ini sebenarnya sudah muncul sejak masa para sahabat.
Dan jawabannya dapat ditemukan dari kehidupan Rasulullah ﷺ sendiri.
Rasulullah ﷺ Tidak Pernah Menunggu Rezeki Datang Begitu Saja
Sebelum diangkat menjadi nabi, Rasulullah ﷺ adalah seorang pedagang yang dikenal jujur dan amanah.
Beliau melakukan perjalanan dagang hingga ke Syam.
Beliau bekerja dengan penuh tanggung jawab.
Beliau menjaga kepercayaan para mitra bisnisnya.
Setelah menjadi Rasul pun, beliau tetap mengajarkan pentingnya bekerja dan mencari nafkah yang halal.
Jika benar Islam mengajarkan bahwa manusia cukup menunggu rezeki datang, tentu Rasulullah ﷺ akan menjadi orang pertama yang melakukannya.
Namun kenyataannya justru sebaliknya.
Beliau berusaha.
Beliau bekerja.
Beliau merencanakan.
Beliau berikhtiar.
Inilah bukti bahwa keyakinan terhadap takdir tidak pernah menjadi alasan untuk bermalas-malasan.
Burung yang Mengajarkan Makna Tawakal
Salah satu hadis yang sangat terkenal berbunyi:
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang.”
(HR. Jami’ at-Tirmidhi)
Perhatikan satu hal yang menarik dalam hadis ini.
Rasulullah ﷺ tidak mengatakan bahwa burung tetap berada di sarangnya lalu makanannya datang sendiri.
Burung itu keluar.
Ia terbang.
Ia mencari.
Ia berusaha.
Barulah Allah memberikan rezekinya.
Hadis ini mengajarkan bahwa tawakal bukan berarti pasif.
Tawakal adalah menyandarkan hati kepada Allah setelah melakukan ikhtiar terbaik.
Mengapa Kita Tetap Merasa Cemas?
Jika rezeki sudah dijamin Allah, mengapa manusia masih sering merasa khawatir?
Salah satu penyebabnya adalah karena kita sering menyamakan rezeki dengan uang.
Padahal dalam Islam, rezeki memiliki makna yang jauh lebih luas.
Kesehatan adalah rezeki.
Keluarga yang harmonis adalah rezeki.
Teman yang baik adalah rezeki.
Ilmu yang bermanfaat adalah rezeki.
Waktu yang berkah juga merupakan rezeki.
Sering kali kita hanya menghitung apa yang masuk ke rekening, tetapi lupa menghitung nikmat lain yang Allah berikan setiap hari.
Rezeki Tidak Selalu Datang Sesuai Keinginan Kita
Ada orang yang bekerja sangat keras, tetapi hasilnya belum sesuai harapan.
Ada pula yang terlihat sederhana, tetapi hidupnya penuh keberkahan.
Islam mengajarkan bahwa Allah tidak hanya menentukan berapa banyak rezeki seseorang, tetapi juga kapan, bagaimana, dan dalam bentuk apa rezeki itu diberikan.
Karena itu, seorang muslim tidak hanya diminta bekerja keras, tetapi juga belajar bersabar ketika hasil belum sesuai dengan yang diinginkan.
Bisa jadi Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik, atau sedang melindungi kita dari sesuatu yang belum kita ketahui.
AI, Teknologi, dan Kekhawatiran tentang Masa Depan
Di tahun-tahun terakhir, banyak orang mulai khawatir bahwa kecerdasan buatan akan menggantikan pekerjaan manusia.
Kekhawatiran ini wajar.
Namun seorang muslim tidak boleh membiarkan rasa takut mengalahkan ikhtiar.
Teknologi akan terus berubah.
Jenis pekerjaan akan terus berkembang.
Tetapi Allah tetaplah Ar-Razzaq, Sang Maha Pemberi Rezeki.
Yang perlu dilakukan adalah terus belajar, meningkatkan kemampuan, dan memanfaatkan teknologi sebagai alat untuk memberikan manfaat yang lebih besar.
Rezeki tidak berhenti karena dunia berubah.
Yang berubah hanyalah cara manusia menjemputnya.
Ikhtiar dan Tawakal Harus Berjalan Bersama
Sering kali orang terjebak pada dua sikap yang sama-sama kurang tepat.
Ada yang bekerja tanpa pernah berdoa, seolah semua bergantung pada usahanya sendiri.
Ada pula yang hanya berdoa tanpa mau berusaha.
Rasulullah ﷺ mengajarkan keseimbangan.
Beliau bekerja keras.
Beliau berdoa.
Beliau merencanakan.
Beliau bertawakal.
Keempatnya berjalan bersama.
Inilah keseimbangan yang membuat hati tetap tenang, apa pun hasil yang diberikan Allah.
Kesimpulan: Rezeki Sudah Dijamin, Tetapi Jalan Menjemputnya Adalah Tanggung Jawab Kita
Hadis tentang rezeki bukanlah ajakan untuk bermalas-malasan.
Sebaliknya, ia adalah ajakan untuk bekerja tanpa dihantui rasa takut yang berlebihan.
Seorang muslim bekerja karena itu adalah bentuk ibadah.
Ia berusaha karena Allah memerintahkannya untuk berikhtiar.
Dan ia tetap tenang karena mengetahui bahwa hasil akhirnya berada di tangan Allah.
Mungkin kita tidak dapat mengendalikan kondisi ekonomi dunia.
Kita juga tidak dapat mengendalikan perubahan teknologi.
Namun kita selalu dapat mengendalikan satu hal.
Kejujuran dalam bekerja.
Kesungguhan dalam berusaha.
Dan keyakinan bahwa Allah tidak akan pernah salah dalam memberikan rezeki kepada hamba-Nya.
Karena pada akhirnya, rezeki bukan hanya tentang apa yang kita miliki, tetapi juga tentang keberkahan yang Allah hadirkan dalam setiap nikmat yang kita terima.
Leave a comment