Belum pernah dalam sejarah manusia informasi pribadi begitu mudah diakses seperti sekarang. Dalam hitungan detik, foto seseorang dapat tersebar ke ribuan orang. Percakapan pribadi bisa diambil tangkapan layarnya, lalu dibagikan tanpa izin. Kesalahan seseorang dapat menjadi bahan perbincangan publik hanya karena sebuah unggahan di media sosial.
Teknologi memang memudahkan komunikasi. Namun di sisi lain, ia juga menghadirkan tantangan baru dalam menjaga kehormatan dan privasi sesama manusia.
Yang menarik, jauh sebelum internet, media sosial, dan telepon pintar hadir, Islam telah mengajarkan prinsip-prinsip yang sangat kuat tentang menjaga privasi, menghormati kehormatan orang lain, dan tidak mencampuri urusan yang bukan hak kita.
Melalui Al-Qur’an dan sunnah, Nabi Muhammad ﷺ membimbing umatnya untuk menjadi pribadi yang tidak hanya menjaga lisan, tetapi juga menjaga mata, telinga, dan hati dari hal-hal yang dapat merugikan orang lain.
Islam Melarang Mencari-Cari Kesalahan Orang Lain
Allah berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 12:
“…Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain…”
Ayat ini turun jauh sebelum manusia mengenal media sosial.
Namun pesannya terasa sangat relevan pada masa kini.
Sering kali seseorang bukan mengetahui kesalahan orang lain secara tidak sengaja, melainkan sengaja mencarinya.
Membuka akun media sosial.
Menggali masa lalu.
Mencari foto lama.
Menyebarkan percakapan pribadi.
Semua itu bertentangan dengan semangat Islam yang mengajarkan agar seorang muslim lebih sibuk memperbaiki dirinya sendiri daripada mencari kekurangan orang lain.
Hadis tentang Menutupi Aib Sesama Muslim
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat.”
(HR. Sahih Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa seorang muslim tidak boleh merasa senang ketika menemukan kesalahan saudaranya.
Sebaliknya, jika memungkinkan dan tidak menimbulkan mudarat yang lebih besar, ia dianjurkan untuk menasihati secara baik tanpa mempermalukan di hadapan banyak orang.
Islam lebih menyukai perbaikan daripada mempermalukan.
Privasi Adalah Bentuk Penghormatan kepada Sesama
Dalam kehidupan Rasulullah ﷺ, menghormati privasi merupakan bagian dari adab.
Beliau mengajarkan agar seseorang meminta izin sebelum memasuki rumah orang lain.
Beliau melarang mengintip ke dalam rumah tanpa izin.
Beliau juga mengajarkan agar seseorang menjaga rahasia yang telah dipercayakan kepadanya.
Semua ini menunjukkan bahwa Islam memandang privasi sebagai bagian dari kehormatan manusia.
Media Sosial Membuat Batas Privasi Semakin Tipis
Hari ini, banyak orang tanpa sadar melanggar privasi orang lain.
Mengunggah foto bersama tanpa izin.
Membagikan isi percakapan pribadi.
Merekam seseorang lalu menyebarkannya demi mendapatkan perhatian.
Menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya.
Padahal setiap tindakan tersebut memiliki konsekuensi moral.
Sebelum menekan tombol “bagikan”, seorang muslim perlu bertanya kepada dirinya sendiri,
“Apakah Rasulullah ﷺ akan menyukai tindakan ini?”
Pertanyaan sederhana itu sering kali cukup untuk membuat kita lebih berhati-hati.
Tidak Semua yang Benar Harus Dipublikasikan
Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi adalah anggapan bahwa jika suatu informasi benar, maka bebas disebarkan.
Padahal Islam mengajarkan kebijaksanaan.
Ada perbedaan antara mengetahui sesuatu dengan menyebarkannya.
Meskipun sebuah informasi benar, jika penyebarannya hanya akan mempermalukan seseorang, memicu permusuhan, atau merusak kehormatan tanpa manfaat yang jelas, maka seorang muslim perlu menahan diri.
Rasulullah ﷺ lebih mengutamakan perbaikan daripada sensasi.
Menjaga Amanah di Dunia Digital
Saat seseorang menceritakan masalah pribadinya kepada kita, itu adalah amanah.
Saat seseorang mengirim pesan pribadi, itu adalah amanah.
Saat seseorang mempercayakan data atau informasi kepada kita, itu juga amanah.
Di era digital, amanah bukan hanya menjaga barang titipan, tetapi juga menjaga informasi.
Menyebarkan sesuatu yang bersifat pribadi tanpa izin dapat merusak kepercayaan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Islam Mengajarkan Berpikir Sebelum Membagikan
Rasulullah ﷺ mengajarkan agar seorang muslim menjaga lisannya.
Di era media sosial, menjaga lisan juga berarti menjaga apa yang kita tulis, unggah, kirim, dan bagikan.
Sebelum membagikan sebuah informasi, ada baiknya kita bertanya:
- Apakah informasi ini benar?
- Apakah bermanfaat?
- Apakah akan menyakiti seseorang?
- Apakah saya memiliki hak untuk membagikannya?
- Apakah Allah akan ridha jika saya melakukannya?
Jika jawabannya meragukan, maka diam sering kali menjadi pilihan yang lebih baik.
Menjaga Privasi Adalah Bagian dari Akhlak Mulia
Akhlak Rasulullah ﷺ tidak hanya terlihat dalam cara beliau berbicara.
Tetapi juga dalam apa yang beliau pilih untuk tidak lakukan.
Beliau tidak mencari-cari kesalahan orang lain.
Beliau tidak mempermalukan orang di depan umum.
Beliau tidak membuka rahasia yang dipercayakan kepadanya.
Beliau memahami bahwa menjaga kehormatan manusia merupakan bagian dari menjaga persaudaraan.
Kesimpulan: Dunia Digital Membutuhkan Lebih Banyak Akhlak Rasulullah ﷺ
Kemajuan teknologi memberi kita kemampuan untuk mengetahui lebih banyak tentang kehidupan orang lain.
Namun kemampuan bukan berarti izin.
Islam mengajarkan bahwa kehormatan seorang muslim adalah sesuatu yang harus dijaga.
Di tengah budaya yang sering menjadikan kehidupan pribadi sebagai konsumsi publik, Rasulullah ﷺ mengajarkan jalan yang berbeda.
Jalan untuk menghormati.
Menjaga.
Dan melindungi.
Karena bisa jadi, salah satu bentuk ibadah yang paling mudah di era digital bukanlah membuat lebih banyak unggahan.
Melainkan menahan diri untuk tidak membagikan sesuatu yang seharusnya tetap menjadi privasi orang lain.
Leave a comment