Dulu, sebuah perkataan mungkin hanya didengar oleh beberapa orang. Hari ini, satu kalimat bisa dibaca ribuan bahkan jutaan orang hanya dalam hitungan menit. Satu komentar bisa discreenshot, satu unggahan bisa dibagikan ulang, dan satu tuduhan yang ternyata salah bisa terus beredar meskipun orang yang membuatnya sudah menghapus postingan. Di era media sosial, menjaga lisan tidak lagi hanya berarti menjaga apa yang keluar dari mulut, tetapi juga apa yang keluar dari jari.
Rasulullah ﷺ telah memberikan prinsip yang sangat sederhana tetapi dalam: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Dalam Shahih Muslim, prinsip tersebut bahkan ditempatkan dalam pembahasan tentang kewajiban menjaga ucapan dan kaitannya dengan iman.
Bukan Berarti Kita Harus Diam Selamanya
Hadis ini sering dipahami secara sederhana sebagai larangan banyak bicara. Padahal, pesannya bukan sekadar “jangan bicara”, melainkan “pastikan apa yang kita katakan adalah kebaikan.”
Ada kalanya berbicara justru menjadi sebuah kebaikan. Memberikan nasihat yang benar, membela orang yang dizalimi, mengajarkan ilmu, menghibur orang yang sedang sedih, menyampaikan informasi yang bermanfaat, atau mengingatkan seseorang dari kesalahan adalah bentuk ucapan yang bernilai.
Sebaliknya, ada perkataan yang mungkin tidak secara langsung terlihat buruk, tetapi sebenarnya tidak memberikan manfaat apa pun. Misalnya ikut menyebarkan gosip, mengejek penampilan seseorang, menambahkan komentar sinis pada sebuah unggahan, atau ikut memperkeruh masalah yang sebenarnya tidak kita pahami.
Karena itu, prinsipnya bukan “sebanyak mungkin diam”, tetapi “jangan berbicara sebelum memastikan ucapan itu layak keluar.”
Di Media Sosial, Jari Kita Bisa Menjadi “Lisan”
Ada perbedaan besar antara mengatakan sesuatu kepada satu orang dan menuliskannya di internet.
Ketika kita berbicara, mungkin percakapan selesai dalam beberapa menit. Tetapi ketika sesuatu dipublikasikan, kita kehilangan sebagian besar kendali atas penyebarannya. Orang lain bisa menyimpan, menyalin, mengutip, mengambil tangkapan layar, bahkan menyebarkannya tanpa konteks.
Itulah sebabnya prinsip menjaga lisan menjadi semakin penting di media sosial. Komentar juga merupakan perkataan. Caption juga merupakan perkataan. Quote tweet, unggahan ulang, dan bahkan komentar “cuma ikut-ikutan” juga merupakan bentuk komunikasi yang memiliki konsekuensi.
Sebelum menekan tombol post, mungkin ada satu pertanyaan sederhana yang perlu dibiasakan:
“Kalau kalimat ini saya ucapkan langsung di depan orangnya, apakah saya masih berani mengatakannya?”
Jika jawabannya tidak, mungkin kita perlu berpikir ulang sebelum mengetiknya.
Masalahnya Bukan Hanya Kebohongan, tetapi Juga Informasi yang Belum Terverifikasi
Media sosial membuat seseorang bisa menjadi penyebar informasi tanpa pernah merasa dirinya sebagai “media”.
Seseorang membaca sebuah berita, merasa marah, lalu langsung membagikannya. Orang berikutnya melihat unggahan tersebut dan menganggapnya benar karena sudah dibagikan banyak orang. Akhirnya informasi yang belum jelas berubah menjadi sesuatu yang dianggap sebagai fakta.
Al-Qur’an memberikan prinsip yang sangat relevan dengan kondisi tersebut. Dalam QS. Al-Hujurat ayat 6, Allah memerintahkan orang beriman untuk memeriksa dan memastikan berita sebelum bertindak berdasarkan informasi tersebut, agar tidak merugikan orang lain karena ketidaktahuan dan kemudian menyesal.
Artinya, menjaga ucapan bukan hanya tentang “apakah kalimat ini sopan?”, tetapi juga “apakah yang saya sampaikan benar?”
Sebuah informasi bisa ditulis dengan bahasa yang sangat sopan tetapi tetap berbahaya jika isinya tidak benar.
“Saya Cuma Berkomentar” Bukan Berarti Tidak Ada Dampaknya
Salah satu jebakan media sosial adalah membuat kita merasa bahwa komentar hanyalah komentar.
Padahal, di balik sebuah komentar ada manusia yang membacanya.
Kalimat seperti “pantas saja”, “makanya jangan begitu”, “jelek banget”, atau “memang orang seperti dia begitu” mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk diketik. Tetapi bagi orang yang membacanya, kalimat tersebut bisa menjadi sesuatu yang terus diingat.
Terlebih ketika seseorang sedang berada dalam kondisi rapuh. Kita tidak tahu apa yang sedang dialami orang di balik sebuah akun. Karena itu, kebebasan berbicara tidak otomatis berarti semua hal pantas dikatakan.
Islam tidak hanya mengajarkan kebenaran dalam berbicara, tetapi juga adab dalam menyampaikannya.
Ada Kalanya Diam Justru Menjadi Bentuk Kedewasaan
Tidak semua perdebatan harus dimenangkan. Tidak semua komentar harus dibalas. Tidak semua kesalahan orang lain harus kita koreksi di depan publik. Dan tidak semua provokasi membutuhkan respons.
Kadang-kadang kita sebenarnya tahu bahwa jika membalas sebuah komentar, percakapan hanya akan menjadi lebih panjang. Kita tahu lawan bicara tidak sedang mencari penjelasan, tetapi sedang mencari pertengkaran.
Pada titik seperti itu, diam bukan berarti kalah.
Diam bisa berarti kita memilih menjaga hati. Kita memilih tidak memperpanjang permusuhan. Kita memilih tidak membiarkan emosi menentukan tindakan. Dan yang paling penting, kita memilih untuk tidak mengatakan sesuatu yang mungkin kita sesali setelah emosi reda.
Hadis “berkata yang baik atau diam” memberikan ruang bagi pilihan tersebut.
Sebelum Posting, Ada Tiga Pertanyaan Sederhana
Mungkin kita tidak bisa mengontrol semua yang muncul di media sosial. Tetapi kita masih bisa mengontrol apa yang keluar dari akun kita.
Sebelum mengunggah atau membagikan sesuatu, coba tanyakan tiga hal: Apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat? Dan apakah cara saya menyampaikannya baik?
Jika benar tetapi tidak bermanfaat, mungkin tidak perlu dipublikasikan.
Jika bermanfaat tetapi belum terverifikasi, mungkin perlu ditahan terlebih dahulu.
Jika benar dan bermanfaat tetapi disampaikan dengan cara yang merendahkan orang lain, mungkin cara penyampaiannya perlu diperbaiki.
Sederhana, tetapi jika benar-benar diterapkan, tiga pertanyaan ini bisa mengubah cara seseorang menggunakan media sosial.
Jejak Digital Bisa Hilang dari Layar, tetapi Belum Tentu dari Ingatan
Ada sesuatu yang sering kita lupakan: menghapus unggahan tidak selalu berarti menghapus dampaknya.
Postingan mungkin sudah dihapus, tetapi sudah dibaca orang. Komentar mungkin sudah diedit, tetapi mungkin sudah di-screenshot. Permintaan maaf mungkin sudah disampaikan, tetapi luka dari sebuah kalimat bisa membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh.
Karena itu, menjaga lisan di zaman sekarang membutuhkan kesadaran yang lebih besar. Kita hidup dalam zaman ketika perkataan bisa memiliki umur jauh lebih panjang daripada suara yang mengucapkannya.
Dan mungkin inilah salah satu alasan mengapa hadis tersebut terasa begitu relevan hari ini: Rasulullah ﷺ mengajarkan sebuah prinsip untuk mengendalikan ucapan, sementara teknologi modern membuat kemampuan kita untuk berbicara kepada orang lain menjadi jauh lebih besar.
Semakin besar kemampuan kita untuk berbicara, semakin besar pula tanggung jawab untuk memilih apa yang layak disampaikan.
Pada akhirnya, mungkin sebelum bertanya “Apakah saya boleh mengatakan ini?”, kita perlu membiasakan bertanya: “Apakah Allah ridha jika ini menjadi salah satu perkataan yang tercatat atas nama saya?”
Karena di media sosial, kita bisa menghapus tulisan dari layar. Tetapi kita tidak bisa menghapus begitu saja tanggung jawab atas apa yang telah kita pilih untuk katakan. Dan hadis Rasulullah ﷺ mengingatkan kita pada prinsip yang sederhana: kalau tidak bisa mengatakan sesuatu yang baik, terkadang diam adalah bentuk kebaikan itu sendiri.
Leave a comment