Ada sesuatu yang aneh dalam diri manusia: ketika melihat orang lain berhasil, kita belum tentu iri. Tetapi ketika melihat orang lain gagal, kadang kita justru merasa senang.
Teman gagal dalam bisnis, kita tertawa.
Seseorang salah bicara di depan banyak orang, videonya kita kirim ke grup.
Orang yang pernah menyombongkan diri akhirnya jatuh, lalu kita berkata, “Nah, rasain.”
Bahkan di media sosial, kegagalan seseorang sering berubah menjadi hiburan. Kesalahan, kecelakaan kecil, kegagalan presentasi, bisnis yang bangkrut, atau seseorang yang dipermalukan bisa mendapatkan ribuan komentar hanya karena orang-orang merasa lucu melihatnya.
Padahal ada satu pertanyaan yang jarang kita tanyakan:
Kalau orang itu sedang jatuh, apakah tugas kita membuatnya semakin jatuh?
Al-Qur’an memberikan peringatan yang sangat tegas: janganlah suatu kaum merendahkan atau mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi orang yang direndahkan justru lebih baik di sisi Allah. Larangan itu juga mencakup mencela dan memberikan panggilan yang buruk.
Di sinilah empati menjadi penting.
Kita Tidak Pernah Tahu Kapan Giliran Kita Berada di Posisi yang Sama
Ketika melihat seseorang gagal, kita sering melihat hasil akhirnya.
Kita melihat bisnisnya tutup.
Kita melihat ucapannya terbukti salah.
Kita melihat proyeknya gagal.
Kita melihat kesalahannya.
Tetapi kita tidak melihat seluruh perjalanan yang membawanya sampai ke sana.
Mungkin dia sudah berusaha bertahun-tahun.
Mungkin dia kehilangan banyak uang.
Mungkin dia sedang menghadapi masalah keluarga.
Mungkin kegagalan itu adalah sesuatu yang sangat berat baginya.
Dan mungkin, tanpa kita sadari, kita sedang menertawakan sesuatu yang membuat orang lain menangis ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Karena itu, Islam mengajarkan agar kita tidak merasa terlalu tinggi hanya karena sedang berada di posisi yang lebih baik.
QS. Al-Hujurat ayat 11 bahkan memberikan alasan yang sangat mendalam: orang yang kita olok-olok bisa jadi lebih baik daripada kita.
Kita melihat kegagalannya.
Allah mengetahui hatinya.
Kita melihat kesalahannya.
Allah mengetahui perjuangannya.
Kita melihat keadaan hari ini.
Allah mengetahui bagaimana akhir hidup seseorang.
Rasulullah ﷺ Tidak Mengajarkan Kita Menikmati Penderitaan Orang Lain
Salah satu gambaran penting dari akhlak Rasulullah ﷺ adalah bagaimana beliau tetap menunjukkan penghormatan kepada manusia bahkan dalam situasi yang mungkin membuat orang lain meremehkan.
Dalam Shahih al-Bukhari, diriwayatkan bahwa sebuah jenazah Yahudi lewat di hadapan Rasulullah ﷺ dan beliau berdiri. Ketika diberitahu bahwa itu adalah jenazah seorang Yahudi, beliau menjawab dengan pertanyaan, “Bukankah ia juga seorang manusia?”
Peristiwa ini menunjukkan sebuah prinsip yang sangat kuat: kemanusiaan tidak hilang hanya karena seseorang berbeda dengan kita.
Kalau terhadap orang yang berbeda keyakinan saja Rasulullah ﷺ menunjukkan penghormatan terhadap sisi kemanusiaannya, bagaimana dengan sesama Muslim yang sedang gagal, jatuh, atau melakukan kesalahan?
Mungkin kita memang boleh mengoreksi kesalahannya.
Tetapi tidak perlu menikmati kehancurannya.
Mengoreksi Kesalahan Berbeda dengan Menertawakan Orang yang Salah
Ini penting.
Empati bukan berarti kita harus mengatakan bahwa semua kesalahan itu benar.
Kalau seseorang melakukan kesalahan, kesalahan tetap perlu diperbaiki.
Kalau seseorang gagal dalam bisnis karena keputusan yang buruk, kita boleh belajar dari kesalahan tersebut.
Kalau seseorang melakukan kesalahan dalam pekerjaan, kita boleh memberikan evaluasi.
Kalau seseorang menyebarkan informasi palsu, kita boleh meluruskan.
Tetapi ada perbedaan besar antara mengatakan:
“Keputusan ini memang salah dan perlu diperbaiki.”
dengan:
“Makanya jangan sok pintar. Sekarang rasakan akibatnya.”
Yang pertama membahas masalah.
Yang kedua menyerang harga diri manusia.
Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan kita untuk membangun kebenaran dengan merendahkan orang lain.
Mengapa Kegagalan Orang Lain Bisa Terasa Lucu?
Ada sisi psikologis manusia yang menarik.
Kadang kita merasa lebih baik ketika melihat orang yang sebelumnya terlihat lebih tinggi akhirnya jatuh.
Orang yang sombong gagal → kita merasa puas.
Orang yang pernah meremehkan kita mendapat masalah → kita merasa mendapatkan pembenaran.
Orang yang selama ini terlihat sukses tiba-tiba bangkrut → kita merasa, “Ternyata dia tidak sehebat itu.”
Perasaan seperti ini mungkin muncul secara spontan.
Tetapi munculnya sebuah perasaan tidak selalu berarti kita harus mengikutinya.
Di sinilah akhlak bekerja.
Kita mungkin merasakan kepuasan ketika melihat orang yang pernah menyakiti kita gagal.
Tetapi kita bisa memilih untuk tidak mengejek.
Kita bisa memilih untuk tidak menyebarkan kegagalannya.
Kita bisa memilih untuk tidak menjadikan kesulitannya sebagai hiburan.
Dan justru kemampuan mengendalikan respons inilah yang membuat akhlak menjadi nyata.
Jangan Menjadikan Kegagalan Orang Lain sebagai Panggung untuk Menaikkan Diri
Ada cara lain yang lebih halus untuk menertawakan orang.
Bukan dengan tertawa secara langsung.
Tetapi dengan membandingkan diri.
“Untung saya tidak seperti dia.”
“Kalau saya yang menjalankan bisnis itu, pasti tidak akan gagal.”
“Makanya jangan terlalu percaya diri.”
Tanpa sadar, kegagalan orang lain kita gunakan untuk membangun rasa superioritas.
Padahal posisi kita belum tentu aman.
Hari ini dia gagal.
Besok mungkin kita.
Hari ini dia melakukan kesalahan.
Besok mungkin kita.
Hari ini dia membutuhkan pertolongan.
Besok mungkin justru kita yang membutuhkan pertolongan.
Karena itu, lebih sehat jika kegagalan orang lain membuat kita berpikir:
“Apa yang bisa saya pelajari dari ini?”
bukan:
“Untung bukan saya.”
Rasulullah ﷺ Mengajarkan Kelembutan Bahkan Ketika Menghadapi Kesalahan
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Aisyah رضي الله عنها, Rasulullah ﷺ digambarkan tidak membalas keburukan pribadi dengan tindakan kasar. Aisyah meriwayatkan bahwa beliau tidak pernah memukul perempuan maupun pembantu dengan tangannya, dan beliau tidak membalas untuk kepentingan dirinya sendiri kecuali ketika batas-batas Allah dilanggar.
Ini menunjukkan perbedaan penting antara ketegasan terhadap kesalahan dan kemarahan yang didorong ego pribadi.
Kita bisa tidak menyukai sebuah perbuatan tanpa membenci seluruh manusia yang melakukannya.
Kita bisa mengatakan sebuah keputusan salah tanpa mempermalukan orang yang membuat keputusan tersebut.
Kita bisa menjaga prinsip tanpa kehilangan rahmah.
Dan kita bisa menolak perilaku buruk tanpa menjadikan kegagalan seseorang sebagai hiburan.
Bagaimana Jika Orang Itu Memang Pernah Merendahkan Kita?
Ini justru ujian yang lebih berat.
Misalnya seseorang pernah mengejek kita ketika gagal.
Kemudian suatu hari dia sendiri mengalami kegagalan.
Secara manusiawi, mungkin muncul keinginan untuk berkata:
“Sekarang bagaimana rasanya?”
Tetapi di sinilah kita memiliki kesempatan untuk memutus siklus tersebut.
Dia pernah mempermalukan kita.
Kita tidak harus mempermalukannya.
Dia pernah menertawakan kegagalan kita.
Kita tidak harus melakukan hal yang sama.
Bukan karena dia benar.
Tetapi karena kita tidak ingin akhlak kita ditentukan oleh akhlaknya.
Memaafkan atau tidak membalas ejekan bukan berarti kita mengatakan bahwa perilaku buruknya dapat dibenarkan.
Kita hanya memilih untuk tidak menjadi seperti itu.
Empati Tidak Berarti Harus Ikut Menangisi Semua Kegagalan
Empati juga perlu dipahami dengan benar.
Kita tidak harus ikut sedih secara berlebihan setiap kali orang lain gagal.
Kita tidak harus menyelamatkan semua orang.
Kita tidak harus memberikan bantuan kepada setiap orang.
Tetapi setidaknya kita bisa memiliki satu sikap:
jangan memperburuk keadaan seseorang yang sedang jatuh.
Kalau bisa membantu, bantu.
Kalau bisa memberi nasihat, sampaikan dengan baik.
Kalau tidak bisa membantu, setidaknya jangan mempermalukan.
Kalau tidak punya solusi, mungkin diam lebih baik daripada menambah luka.
Sederhana, tetapi sangat manusiawi.
Ada Kegagalan yang Justru Menjadi Jalan Seseorang untuk Berubah
Kita juga sering lupa bahwa kegagalan hari ini tidak menentukan nilai seseorang selamanya.
Orang yang gagal dalam bisnis bisa belajar dan membangun bisnis yang lebih baik.
Orang yang pernah salah bicara bisa belajar menjadi lebih bijaksana.
Orang yang pernah jatuh bisa bangkit dengan pengalaman yang jauh lebih matang.
Bahkan seseorang yang hari ini jauh dari kebaikan bisa berubah menjadi jauh lebih baik di masa depan.
Karena itu, jangan mengunci identitas seseorang pada kesalahannya hari ini.
Bisa jadi orang yang sedang kita tertawakan justru akan menjadi orang yang suatu hari lebih baik daripada kita.
Dan bukankah QS. Al-Hujurat ayat 11 sudah mengingatkan hal tersebut? Kita tidak tahu siapa yang sebenarnya lebih mulia di sisi Allah.
Kalau Kita Melihat Orang Lain Gagal, Apa yang Sebaiknya Dilakukan?
Mungkin ada empat respons sederhana.
Pertama, tahan keinginan untuk mengejek.
Tidak semua hal yang lucu harus ditertawakan, terutama jika kelucuan itu berasal dari penderitaan seseorang.
Kedua, lihat apakah orang tersebut membutuhkan bantuan.
Tidak harus selalu dalam bentuk uang. Kadang satu kalimat seperti, “Semoga kamu bisa melewati ini,” sudah cukup.
Ketiga, ambil pelajaran dari kegagalannya.
Tanyakan kepada diri sendiri: Apa yang bisa saya pelajari agar tidak mengulangi kesalahan yang sama?
Keempat, ingat bahwa posisi manusia bisa berubah.
Jangan terlalu sombong ketika sedang berada di atas.
Karena hidup tidak selalu berjalan dalam satu arah.
Mungkin Empati Dimulai dari Satu Pertanyaan
Ketika melihat orang lain gagal, sebelum tertawa, coba tanyakan:
“Kalau saya berada di posisi dia, apakah saya ingin diperlakukan seperti ini?”
Kalau jawabannya tidak, mungkin kita sudah tahu bagaimana seharusnya bersikap.
Karena empati pada dasarnya adalah kemampuan untuk keluar sebentar dari sudut pandang kita sendiri dan mencoba melihat keadaan dari sisi orang lain.
Dan Islam mengajarkan sesuatu yang lebih dalam lagi:
Jangan hanya bertanya apakah tindakan kita boleh.
Tanyakan apakah tindakan kita berakhlak.
Sebab tidak semua yang bisa kita lakukan pantas kita lakukan.
Pada akhirnya, setiap orang akan mengalami kegagalan dalam bentuk yang berbeda.
Ada yang gagal dalam bisnis.
Ada yang gagal dalam pekerjaan.
Ada yang gagal dalam hubungan.
Ada yang gagal dalam pendidikan.
Ada yang gagal memenuhi target hidupnya.
Bahkan orang yang hari ini terlihat sangat kuat pun suatu hari mungkin berada di titik paling lemahnya.
Ketika saat itu datang, kita tentu berharap ada orang yang tidak menertawakan kita.
Ada orang yang tidak menyebarkan kegagalan kita.
Ada orang yang tidak berkata, “Makanya…”
Ada seseorang yang cukup dewasa untuk berkata:
“Tidak apa-apa. Kamu gagal kali ini. Sekarang mari kita lihat apa yang bisa dipelajari dan bagaimana kamu bisa bangkit.”
Maka ketika orang lain gagal, mungkin pertanyaan terbaik bukan:
“Seberapa lucu kegagalannya?”
Tetapi:
“Apakah kehadiran saya membuat dia semakin terpuruk, atau justru sedikit lebih kuat untuk bangkit?”
Karena kita tidak pernah tahu kapan posisi akan berubah.
Hari ini kita sedang berdiri.
Besok mungkin kita yang jatuh.
Dan ketika kita jatuh, kita tentu berharap diperlakukan bukan dengan tawa, tetapi dengan rahmah.
Itulah salah satu pelajaran empati dari Rasulullah ﷺ: kita tidak harus menyetujui kesalahan seseorang untuk tetap menghargai manusia yang sedang mengalaminya.
Leave a comment