Di suatu hari, ketika para sahabat duduk bersama Rasulullah ﷺ, datanglah seorang lelaki yang penampilannya sangat rapi, tidak tampak bekas perjalanan, dan tidak seorang pun mengenalnya. Ia duduk sangat dekat, lalu mulai bertanya. Pertanyaan-pertanyaan itu sederhana, tetapi jawabannya menjadi fondasi ajaran Islam sepanjang masa. Lelaki itu adalah malaikat Jibril, dan peristiwa ini dikenal sebagai Hadith of Gabriel.
Dari dialog singkat ini, lahirlah penjelasan paling ringkas tentang tiga pilar: Islam, Iman, dan Ihsan.
Islam yang Tampak dalam Perbuatan
Ketika ditanya tentang Islam, Rasulullah ﷺ menjelaskan rukun-rukunnya: syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji. Ini adalah aspek yang terlihat, yang bisa diamati dari luar. Islam bukan sekadar keyakinan di hati, tetapi amal nyata yang membentuk ritme hidup seorang muslim setiap hari.
Shalat membagi waktu, zakat mengatur harta, puasa melatih diri, dan haji mengajarkan pengorbanan. Seluruhnya adalah aktivitas yang membumi.
Iman yang Hidup di Dalam Hati
Lalu pertanyaan beralih kepada iman. Rasulullah ﷺ menjelaskan tentang iman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, dan takdir. Ini adalah sisi batin yang tidak terlihat, tetapi menjadi penggerak semua amal.
Seseorang bisa melakukan banyak aktivitas keagamaan, tetapi tanpa iman yang hidup, semua itu terasa kosong. Iman memberi ruh pada setiap perbuatan.
Ihsan yang Membuat Hidup Penuh Kesadaran
Bagian terakhir adalah ihsan: beribadah seakan-akan melihat Allah, dan jika tidak mampu, yakinlah bahwa Allah melihat kita. Inilah tingkat kesadaran tertinggi. Bukan hanya melakukan kebaikan, tetapi melakukannya dengan penuh kehadiran hati.
Ihsan membuat seseorang jujur meski tidak diawasi, sabar meski tidak dipuji, dan tetap baik meski tidak dilihat orang.
Mengapa Hadits Ini Sangat Penting
Para ulama menyebut hadits ini sebagai ringkasan seluruh agama. Di dalamnya ada syariat (Islam), akidah (Iman), dan akhlak (Ihsan). Tiga hal yang jika berjalan bersama, akan membentuk pribadi muslim yang utuh.
Tanpa Islam, iman tidak tampak. Tanpa iman, Islam terasa hampa. Tanpa ihsan, keduanya kehilangan keindahan.
Penutup
Hadits Jibril bukan sekadar dialog, tetapi peta hidup seorang muslim. Ia menunjukkan bahwa agama ini tidak rumit, tetapi juga tidak dangkal. Ada amal yang dikerjakan, ada keyakinan yang dijaga, dan ada kesadaran yang terus dihidupkan.
Ketika tiga hal ini hadir dalam keseharian, hidup menjadi lebih terarah, tenang, dan bermakna.
Leave a comment