Home The Prophet’s Sirah Isra Mi’raj: 7 Pelajaran yang Masih Sangat Relevan dalam Kehidupan Kita Hari Ini
The Prophet’s SirahIslamic studies

Isra Mi’raj: 7 Pelajaran yang Masih Sangat Relevan dalam Kehidupan Kita Hari Ini

Share
Isra Mi’raj: 7 Pelajaran yang Masih Sangat Relevan dalam Kehidupan Kita Hari Ini
Share

Isra Mi’raj sering kita kenal sebagai peristiwa luar biasa dalam perjalanan hidup Rasulullah ﷺ: perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, kemudian Mi’raj ke langit atas kehendak Allah.

Namun jika Isra Mi’raj hanya berhenti sebagai kisah yang kita dengarkan setiap tahun, kita mungkin kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting.

Di balik peristiwa tersebut terdapat pelajaran tentang iman, salat, keteguhan menghadapi ujian, cara melihat kehidupan, dan hubungan manusia dengan Allah.

Apalagi peristiwa ini terjadi setelah Rasulullah ﷺ melewati masa yang sangat berat. Beliau mengalami tekanan dakwah di Makkah, kehilangan orang-orang yang sangat berarti, dan menghadapi penolakan ketika berdakwah ke Thaif.

Karena itu, Isra Mi’raj bukan hanya kisah tentang perjalanan yang luar biasa.

Ia juga mengajarkan bagaimana seorang manusia tetap berjalan ketika hidup sedang terasa sangat berat.

Berikut tujuh pelajaran yang masih sangat relevan untuk kehidupan kita hari ini.

1. Jangan Mengira Kesulitan Berarti Allah Meninggalkan Kita

Salah satu hal yang paling menarik dari konteks Isra Mi’raj adalah waktunya.

Rasulullah ﷺ mengalami berbagai tekanan sebelum peristiwa tersebut. Dalam perjalanan ke Thaif, beliau bahkan mengalami penolakan dan perlakuan yang menyakitkan. Dalam Shahih al-Bukhari disebutkan bahwa setelah pengalaman tersebut, malaikat penjaga gunung menawarkan untuk menghancurkan penduduk Thaif, tetapi Rasulullah ﷺ tidak memilih pembalasan. Beliau berharap agar dari keturunan mereka kelak lahir orang-orang yang menyembah Allah.

Kemudian datanglah Isra.

Allah berfirman dalam QS. Al-Isra’ ayat 1 bahwa Dia memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa agar diperlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya.

Pelajarannya bukan bahwa setiap kali kita mengalami kesulitan, kita pasti akan mendapatkan pengalaman luar biasa seperti Isra Mi’raj.

Itu adalah mukjizat khusus bagi Rasulullah ﷺ.

Tetapi kita dapat mengambil prinsip:

Kesulitan yang sedang kita alami tidak otomatis berarti Allah meninggalkan kita.

Kadang kita hanya melihat masalah.

Allah mengetahui keseluruhan perjalanan.

Maka ketika bisnis gagal, pekerjaan bermasalah, hubungan sedang sulit, atau doa yang kita harapkan belum terlihat jawabannya, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa semuanya telah berakhir.

Kita mungkin hanya sedang berada di satu halaman dari cerita yang belum selesai.

2. Salat Bukan Sekadar Kewajiban, tetapi Tempat Kita Kembali

Salah satu hal terbesar yang berkaitan dengan Mi’raj adalah kewajiban salat lima waktu.

Dalam hadis Shahih al-Bukhari, Rasulullah ﷺ menceritakan bahwa pada perjalanan tersebut awalnya diwajibkan lima puluh kali salat, kemudian setelah beberapa kali permohonan pengurangan, akhirnya ditetapkan lima waktu dengan pahala yang tetap seperti lima puluh.

Coba lihat kehidupan manusia modern.

Kita memiliki kalender.

Jadwal rapat.

Notifikasi.

Target.

Deadline.

Agenda.

Tetapi lima kali sehari, seorang Muslim diminta berhenti dari semua itu dan menghadap Allah.

Dari sudut pandang spiritual, salat mengingatkan bahwa pekerjaan bukan pusat kehidupan kita.

Bisnis bukan pusat kehidupan.

Uang bukan pusat kehidupan.

Popularitas bukan pusat kehidupan.

Bahkan masalah kita pun bukan pusat kehidupan.

Ada sesuatu yang lebih besar: Allah.

Maka ketika hidup terasa kacau, jangan hanya mencari cara untuk mengatur dunia di sekitar kita.

Pastikan hubungan kita dengan Allah juga tidak ikut berantakan.

3. Tidak Semua Jawaban Harus Kita Ketahui Sekarang

Isra Mi’raj mengandung banyak hal yang berada di luar jangkauan pengalaman manusia biasa.

Bagaimana perjalanan itu terjadi?

Bagaimana Rasulullah ﷺ mengalami berbagai tahapan perjalanan tersebut?

Bagaimana hakikat peristiwa-peristiwa gaib yang beliau saksikan?

Ada bagian-bagian yang memang berada di wilayah perkara gaib.

Di sinilah iman mengajarkan kita sebuah kemampuan yang sangat sulit bagi manusia modern: menerima bahwa tidak semua hal harus dapat kita jelaskan dengan pengalaman kita sendiri sebelum kita mempercayainya.

Ini bukan berarti Islam melarang berpikir.

Justru Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia menggunakan akal.

Tetapi akal manusia juga memiliki batas.

Ada hal yang kita ketahui.

Ada hal yang belum kita ketahui.

Dan ada hal yang memang berada di luar jangkauan kita.

Dalam kehidupan sehari-hari pun demikian.

Kita sering ingin mengetahui:

“Kenapa ini terjadi?”

“Kenapa doaku belum dikabulkan?”

“Kenapa saya kehilangan pekerjaan?”

“Kenapa orang lain lebih dulu berhasil?”

“Kenapa jalan saya terasa lebih berat?”

Tidak semua jawabannya datang hari ini.

Iman mengajarkan kita untuk tetap berjalan meskipun tidak semua pertanyaan sudah mendapatkan jawaban.

4. Pengalaman Spiritual Seharusnya Membuat Kita Kembali Lebih Kuat Menjalani Kehidupan

Ada satu hal yang sering luput ketika membicarakan Isra Mi’raj.

Rasulullah ﷺ tidak berhenti di langit.

Beliau kembali.

Kembali ke Makkah.

Kembali berdakwah.

Kembali menghadapi masyarakat yang menolak beliau.

Artinya, pengalaman spiritual bukan pelarian dari kehidupan.

Justru ia menjadi sumber kekuatan untuk kembali menjalani kehidupan.

Ini relevan bagi kita.

Kita beribadah bukan agar terbebas dari seluruh masalah dunia.

Kita salat bukan berarti setelah salam semua persoalan otomatis selesai.

Kita berdzikir bukan berarti hidup tidak akan pernah membuat kita sedih lagi.

Tetapi ibadah memberi kita kesempatan untuk mengembalikan orientasi hidup kepada Allah.

Setelah itu kita kembali bekerja.

Kembali mengurus keluarga.

Kembali menghadapi masalah.

Kembali berusaha.

Bedanya, kita tidak menghadapinya sendirian secara spiritual.

Kita kembali kepada dunia setelah sebelumnya kembali kepada Allah.

5. Jangan Mengukur Masa Depan dari Kondisi Hari Ini

Ini mungkin salah satu pelajaran yang paling relevan.

Bayangkan seseorang sedang berada dalam fase terburuk hidupnya.

Penghasilan turun.

Usaha gagal.

Hubungan berantakan.

Rencana tidak berjalan.

Kemudian ia berkata:

“Sepertinya hidup saya akan seperti ini selamanya.”

Masalahnya, kita sering menganggap kondisi saat ini sebagai gambaran permanen tentang masa depan.

Padahal sejarah kehidupan Rasulullah ﷺ menunjukkan sebaliknya.

Makkah yang dahulu menjadi tempat tekanan dan penolakan akhirnya menjadi tempat yang dibebaskan.

Orang-orang yang dahulu memusuhi Islam akhirnya banyak yang masuk Islam.

Dakwah yang dahulu tampak sangat berat akhirnya berkembang jauh melampaui apa yang bisa dibayangkan manusia pada masa awalnya.

Karena itu, jangan terlalu cepat membuat kesimpulan dari satu musim kehidupan.

Hari yang buruk bukan berarti seluruh hidup akan buruk.

Kegagalan hari ini bukan ramalan masa depan.

Kesulitan hari ini bukan berarti Allah telah menulis seluruh hidup kita dalam kesulitan.

Kita tidak mengetahui apa yang akan Allah buka setelah pintu yang sekarang tertutup.

6. Ada Saatnya Kita Harus Berhenti dari Kecepatan Dunia

Isra Mi’raj juga mengajarkan sesuatu yang sangat relevan di era modern: manusia membutuhkan jeda.

Kita hidup dalam budaya yang selalu bergerak.

Bangun → bekerja.

Bekerja → mengecek pesan.

Makan → membuka ponsel.

Istirahat → menonton.

Sebelum tidur → scrolling.

Bahkan ketika tidak sedang bekerja, pikiran kita sering tetap sibuk.

Salat memotong siklus tersebut.

Adzan datang.

Kita berhenti.

Kita meninggalkan aktivitas sejenak.

Kita berdiri menghadap kiblat.

Takbir.

Kemudian kita membaca ayat-ayat Allah.

Beberapa menit kemudian, kita kembali.

Mungkin masalah kita masih sama.

Tetapi kita sudah memberikan hati sebuah kesempatan untuk berhenti.

Dan terkadang yang kita butuhkan bukan kehidupan yang lebih sedikit masalah, tetapi hati yang lebih kuat menghadapi masalah.

7. Setinggi Apa Pun Cita-Cita Kita, Jangan Sampai Kehilangan Arah Pulang

Isra Mi’raj membawa kita kepada gambaran tentang perjalanan yang sangat tinggi.

Tetapi kehidupan Rasulullah ﷺ juga mengajarkan bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya.

Bagi kita, “naik” bisa berarti banyak hal.

Karier naik.

Pendapatan naik.

Bisnis berkembang.

Jumlah pengikut bertambah.

Nama semakin dikenal.

Kekuasaan semakin besar.

Tetapi ada pertanyaan yang jauh lebih penting:

Apakah hubungan kita dengan Allah juga ikut naik?

Jangan sampai kehidupan kita berkembang secara material tetapi menyusut secara spiritual.

Jangan sampai penghasilan bertambah tetapi syukur berkurang.

Jangan sampai jabatan naik tetapi kerendahan hati hilang.

Jangan sampai popularitas bertambah tetapi salat semakin tertinggal.

Jangan sampai kita sibuk mengejar dunia sampai lupa kepada siapa akhirnya kita akan kembali.

Isra Mi’raj mengingatkan kita bahwa perjalanan manusia bukan hanya perjalanan horizontal mengejar dunia.

Ada perjalanan spiritual yang juga harus dijaga.

Isra Mi’raj Bukan Hanya untuk Dikagumi, tetapi untuk Dihidupkan

Jika tujuh pelajaran tadi diringkas, mungkin semuanya bermuara pada satu hal:

hubungan dengan Allah harus tetap hidup dalam kondisi apa pun.

Ketika hidup sulit → jangan merasa ditinggalkan.

Ketika hidup sibuk → jangan meninggalkan salat.

Ketika banyak pertanyaan → terima bahwa tidak semua jawaban datang sekarang.

Ketika mendapatkan pengalaman spiritual → kembali menjadi manusia yang lebih baik.

Ketika gagal → jangan menganggap masa depan sudah selesai.

Ketika dunia terlalu cepat → berikan hati waktu untuk berhenti.

Ketika hidup semakin sukses → jangan kehilangan arah kepada Allah.

Itulah mengapa Isra Mi’raj tetap relevan meskipun peristiwanya terjadi lebih dari 1.400 tahun lalu.

Teknologi berubah.

Cara manusia bekerja berubah.

Kendaraan berubah.

Media komunikasi berubah.

Tetapi kebutuhan manusia untuk memiliki hubungan dengan Allah tidak berubah.

Kita masih mengalami kehilangan.

Masih mengalami kegagalan.

Masih mengalami kecemasan.

Masih memiliki ambisi.

Masih mudah lupa.

Masih membutuhkan arah.

Dan karena itulah pesan Isra Mi’raj terasa begitu dekat.

Mungkin kita tidak akan pernah mengalami perjalanan seperti Rasulullah ﷺ.

Tetapi setiap hari kita diberi kesempatan untuk melakukan “perjalanan” dalam bentuk yang berbeda.

Kita meninggalkan kesibukan ketika mendengar azan.

Kita mengambil wudu.

Kita berdiri.

Kita menghadap Allah.

Dan untuk beberapa menit, dunia yang begitu ramai kita tinggalkan.

Kemudian kita kembali.

Masalah mungkin masih ada.

Pekerjaan masih menunggu.

Tagihan belum selesai.

Target belum tercapai.

Tetapi semoga hati kita sudah diingatkan kembali tentang siapa yang sebenarnya memegang semua urusan.

Karena mungkin salah satu pesan terbesar Isra Mi’raj bukan bahwa manusia harus terbang semakin tinggi mengejar dunia, tetapi bahwa setinggi apa pun perjalanan hidup kita, kita tidak boleh kehilangan jalan untuk kembali kepada Allah.

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles
Saat Rasulullah ﷺ Berada dalam Bahaya: Pelajaran dari Malam Hijrah yang Penuh Strategi
The Prophet’s Sirah

Saat Rasulullah ﷺ Berada dalam Bahaya: Pelajaran dari Malam Hijrah yang Penuh Strategi

Bayangkan berada dalam situasi ketika orang-orang sedang mencari Anda. Jalur keluar diawasi....

Shalawat Bukan Sekadar Bacaan: Apa yang Seharusnya Berubah dalam Diri Kita?
Islamic studies

Shalawat Bukan Sekadar Bacaan: Apa yang Seharusnya Berubah dalam Diri Kita?

Ada orang yang lisannya sangat sering bershalawat. Setiap hari ia mengucapkan nama...

Mengapa Shalawat Ada di Dalam Shalat? Ternyata Ada Pesan Besar di Baliknya
Islamic studies

Mengapa Shalawat Ada di Dalam Shalat? Ternyata Ada Pesan Besar di Baliknya

Setiap hari kita mendirikan shalat. Dalam sehari semalam, seorang muslim mengulang bacaan...

Apa Makna Maulid Nabi ﷺ di Zaman Sekarang? Bukan Sekadar Perayaan, tetapi Momentum Mengingat Rasulullah
Islamic studies

Apa Makna Maulid Nabi ﷺ di Zaman Sekarang? Bukan Sekadar Perayaan, tetapi Momentum Mengingat Rasulullah

Setiap kali bulan Rabiul Awal tiba, banyak umat Islam kembali disibukkan dengan...