Home Islamic studies Mengapa Shalawat Ada di Dalam Shalat? Ternyata Ada Pesan Besar di Baliknya
Islamic studies

Mengapa Shalawat Ada di Dalam Shalat? Ternyata Ada Pesan Besar di Baliknya

Share
Mengapa Shalawat Ada di Dalam Shalat? Ternyata Ada Pesan Besar di Baliknya
Share

Setiap hari kita mendirikan shalat. Dalam sehari semalam, seorang muslim mengulang bacaan yang sama berkali-kali. Di antara rangkaian bacaan tersebut terdapat satu bagian yang sangat istimewa: shalawat kepada Rasulullah ﷺ.

Kita membacanya ketika duduk dalam tasyahud, terutama pada tasyahud akhir. Kita mengucapkan nama Rasulullah ﷺ, kemudian memohon kepada Allah agar memberikan shalawat dan keberkahan kepada beliau serta keluarga beliau.

Namun pernahkah kita bertanya, mengapa shalawat justru ditempatkan di dalam shalat?

Shalat adalah ibadah yang menjadi hubungan langsung seorang hamba dengan Allah. Di dalamnya kita membaca Al-Fatihah, memuji Allah, bersujud, berdoa, dan menyatakan syahadat. Lalu di tengah rangkaian ibadah yang begitu agung itu, mengapa Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk bershalawat?

Jawabannya membawa kita kepada sebuah pesan yang sangat dalam tentang hubungan antara mencintai Allah, mengikuti Rasulullah ﷺ, dan memahami dari mana petunjuk itu sampai kepada kita.

Shalawat Ibrahimiyah Bukan Bacaan yang Dibuat Belakangan

Hal pertama yang penting dipahami adalah bahwa Shalawat Ibrahimiyah bukan sekadar bacaan yang muncul dari tradisi masyarakat Muslim.

Para sahabat sendiri pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ bagaimana cara bershalawat kepada beliau.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, para sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang bagaimana mereka harus bershalawat setelah mengetahui tata cara mengucapkan salam kepada beliau.

Rasulullah ﷺ kemudian mengajarkan lafaz yang kita kenal sebagai Shalawat Ibrahimiyah.

Ini berarti bacaan tersebut memiliki dasar langsung dari sunnah Rasulullah ﷺ.

Kita tidak sedang membuat sebuah doa untuk memuji Nabi berdasarkan pemikiran kita sendiri. Kita sedang mengikuti doa yang beliau ajarkan kepada para sahabatnya.

Mengapa Shalawat Diletakkan dalam Shalat?

Shalat memiliki struktur yang sangat dalam.

Kita memulai dengan mengagungkan Allah.

Kita membaca Al-Fatihah.

Kita memuji-Nya.

Kita rukuk dan bersujud.

Kemudian di bagian akhir, kita membaca tasyahud dan bershalawat kepada Rasulullah ﷺ.

Ini mengingatkan kita pada satu hal penting: agama yang kita jalankan hari ini sampai kepada kita melalui Rasulullah ﷺ.

Kita mengetahui bagaimana cara shalat bukan karena kita menciptakannya sendiri.

Kita mengetahui bagaimana cara berzakat bukan karena kita menemukannya sendiri.

Kita mengetahui bagaimana cara berpuasa, berhaji, berdoa, dan menjalankan berbagai ibadah karena Rasulullah ﷺ menyampaikan dan mencontohkannya.

Maka ketika kita berdiri menghadap Allah, kita juga mengingat manusia yang menjadi perantara penyampaian risalah tersebut kepada umat manusia.

Shalat Menghubungkan Kita kepada Allah, Shalawat Mengingatkan Kita kepada Rasulullah ﷺ

Di sinilah terdapat pesan yang sangat indah.

Shalat mengajarkan hubungan vertikal antara manusia dan Allah.

Kita berdiri sebagai hamba.

Kita membaca firman-Nya.

Kita memuji-Nya.

Kita bersujud kepada-Nya.

Namun di dalam shalat yang sama, kita juga diingatkan kepada Rasulullah ﷺ.

Mengapa?

Karena mengenal Allah dan mengikuti Rasul-Nya tidak dapat dipisahkan dalam ajaran Islam.

Al-Qur’an berulang kali memerintahkan manusia untuk menaati Allah dan Rasul-Nya.

Karena itu, shalawat di dalam shalat dapat menjadi pengingat bahwa cinta kepada Allah harus berjalan bersama dengan mengikuti Rasulullah ﷺ.

Mengapa Nama Nabi Ibrahim Disebut?

Bagian yang menarik lainnya adalah mengapa Shalawat Ibrahimiyah tidak hanya menyebut Rasulullah ﷺ.

Kita juga menyebut Nabi Ibrahim a.s. dan keluarganya.

Dalam bacaan tersebut, kita memohon kepada Allah agar memberikan shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ dan keluarga beliau sebagaimana Allah telah memberikan shalawat kepada Nabi Ibrahim a.s. dan keluarganya.

Ini bukan kebetulan.

Nabi Ibrahim a.s. memiliki posisi yang sangat penting dalam sejarah tauhid. Dari keturunannya lahir berbagai nabi, dan melalui garis keturunannya pula Rasulullah ﷺ berasal.

Ketika seorang muslim membaca Shalawat Ibrahimiyah, ia sebenarnya sedang diingatkan bahwa risalah Nabi Muhammad ﷺ merupakan bagian dari rangkaian panjang dakwah para nabi untuk mengajak manusia menyembah Allah.

Dari Nabi Ibrahim a.s., Ismail a.s., hingga Rasulullah Muhammad ﷺ, semuanya membawa manusia kembali kepada tauhid.

Shalawat Mengajarkan Kita untuk Tidak Melupakan Pembawa Risalah

Ada pelajaran yang sangat manusiawi di sini.

Bayangkan seseorang memberikan kepada kita sebuah hadiah yang mengubah hidup.

Secara otomatis kita akan mengingat orang yang memberikannya.

Islam memberikan kepada kita sesuatu yang jauh lebih besar daripada hadiah dunia: petunjuk menuju Allah.

Dan Rasulullah ﷺ adalah manusia yang membawa risalah tersebut kepada umat manusia.

Beliau berdakwah selama bertahun-tahun.

Beliau mengalami penolakan.

Beliau kehilangan orang-orang yang dicintai.

Beliau menghadapi ancaman.

Beliau mengalami kelaparan dan kesulitan.

Namun beliau tetap menyampaikan amanah.

Karena itu, ketika kita bershalawat dalam shalat, seharusnya kita tidak hanya membaca sebuah formula.

Kita sedang mengingat perjuangan seorang manusia yang menghabiskan hidupnya untuk menyampaikan petunjuk kepada umatnya.

Shalawat Bukan Menyembah Rasulullah ﷺ

Ini juga penting untuk dipahami.

Ketika seorang muslim bershalawat, ia tidak sedang menyembah Rasulullah ﷺ.

Kita tetap memohon kepada Allah.

Perhatikan lafaz Shalawat Ibrahimiyah: kita memohon kepada Allah agar memberikan shalawat dan keberkahan kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Dengan demikian, shalawat justru memperkuat tauhid.

Kita tidak meminta kepada Nabi sebagai Tuhan.

Kita meminta kepada Allah untuk memuliakan Rasul-Nya.

Inilah salah satu keindahan struktur shalawat yang diajarkan Rasulullah ﷺ.

Mengapa Shalawat Diulang Setiap Hari?

Karena manusia mudah lupa.

Kita bisa membaca sirah Nabi satu kali, kemudian beberapa minggu kemudian lupa.

Kita bisa mendengarkan ceramah tentang akhlak Rasulullah ﷺ, kemudian kembali sibuk dengan kehidupan.

Namun shalat datang kembali setiap hari.

Dan di dalamnya kita kembali membaca shalawat.

Pagi.

Siang.

Sore.

Malam.

Berulang-ulang.

Seolah-olah kita terus diingatkan:

“Jangan lupakan siapa yang telah mengajarkanmu jalan ini.”

Shalawat menjadi pengingat yang terus hidup dalam rutinitas seorang muslim.

Dari Shalawat Menuju Keteladanan

Namun ada satu hal yang lebih penting.

Jangan sampai kita hanya berhenti pada bacaan.

Jika setiap hari kita bershalawat kepada Rasulullah ﷺ tetapi masih mudah berbohong, mudah marah, tidak amanah, atau suka menyakiti orang lain, maka ada pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri.

Apakah kita benar-benar mengenal Rasulullah ﷺ yang kita sebut dalam shalat?

Karena semakin seseorang mencintai Rasulullah ﷺ, seharusnya semakin besar keinginannya untuk mengikuti akhlak beliau.

Shalawat yang kita baca di dalam shalat seharusnya keluar dari shalat bersama kita.

Kejujuran Rasulullah ﷺ dibawa ke tempat kerja.

Kasih sayang beliau dibawa ke rumah.

Kesabaran beliau dibawa ketika menghadapi masalah.

Amanah beliau dibawa ketika menjalankan tanggung jawab.

Dan kelembutan beliau dibawa ketika berbicara dengan orang lain.

Pesan Besar di Balik Shalawat dalam Shalat

Mungkin selama ini kita melihat Shalawat Ibrahimiyah hanya sebagai bagian dari bacaan tasyahud.

Padahal di baliknya terdapat pesan yang sangat dalam.

Kita diingatkan kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang kita sembah.

Kita diingatkan kepada Rasulullah ﷺ sebagai pembawa risalah yang harus kita ikuti.

Kita diingatkan kepada Nabi Ibrahim a.s. sebagai bagian dari sejarah panjang tauhid.

Dan kita diingatkan bahwa iman bukan hanya tentang ritual, tetapi juga tentang hubungan antara keyakinan, kecintaan, dan keteladanan.

Setiap kali kita membaca shalawat, kita memiliki kesempatan untuk memperbarui hubungan tersebut.

Kesimpulan: Ketika Shalawat Dibaca, Seharusnya Hati Juga Diingatkan

Mungkin setelah memahami makna ini, kita akan memandang Shalawat Ibrahimiyah dengan cara yang sedikit berbeda.

Duduk dalam tasyahud tidak lagi terasa seperti sekadar bagian yang harus diselesaikan sebelum salam.

Ketika kita membaca,

“Allahumma shalli ‘ala Muhammad…”

kita dapat berhenti sejenak dan mengingat Rasulullah ﷺ.

Mengingat perjuangannya.

Mengingat akhlaknya.

Mengingat kasih sayangnya kepada umat.

Dan mengingat bahwa ajaran yang sedang kita jalankan dalam shalat adalah ajaran yang beliau ajarkan kepada kita.

Maka shalawat dalam shalat bukan sekadar tambahan bacaan.

Ia adalah pengingat hubungan kita dengan Rasulullah ﷺ.

Dan mungkin pesan terbesarnya adalah ini:

Jangan hanya menyebut Rasulullah ﷺ dalam shalat. Bawalah teladan beliau keluar dari shalat dan masuk ke dalam kehidupan.

Karena shalat yang benar seharusnya tidak hanya mengubah beberapa menit ketika kita berdiri di hadapan Allah.

Ia seharusnya perlahan mengubah cara kita menjalani seluruh kehidupan.

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles
Apa Makna Maulid Nabi ﷺ di Zaman Sekarang? Bukan Sekadar Perayaan, tetapi Momentum Mengingat Rasulullah
Islamic studies

Apa Makna Maulid Nabi ﷺ di Zaman Sekarang? Bukan Sekadar Perayaan, tetapi Momentum Mengingat Rasulullah

Setiap kali bulan Rabiul Awal tiba, banyak umat Islam kembali disibukkan dengan...

Maulid Nabi ﷺ: Mengapa Umat Islam Memperingati Kelahiran Rasulullah? Sejarah dan Maknanya
Islamic studies

Maulid Nabi ﷺ: Mengapa Umat Islam Memperingati Kelahiran Rasulullah? Sejarah dan Maknanya

Setiap kali memasuki bulan Rabiul Awal, suasana di banyak wilayah Muslim mulai...

Ketika Hidup Terasa Tidak Adil: Bagaimana Seorang Muslim Harus Bersikap?
Islamic studies

Ketika Hidup Terasa Tidak Adil: Bagaimana Seorang Muslim Harus Bersikap?

Ada masa ketika hidup terasa begitu tidak adil. Kita sudah bekerja keras,...

Mengapa Orang yang Paling Kuat Justru Mampu Mengendalikan Dirinya?
Islamic studies

Mengapa Orang yang Paling Kuat Justru Mampu Mengendalikan Dirinya?

Kita sering memiliki gambaran yang berbeda tentang apa arti menjadi kuat. Ada...