Waktu adalah nikmat yang paling sering hilang tanpa terasa. Dalam Islam, waktu bukan sekadar durasi yang berlalu, tetapi amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Banyak kegelisahan hidup muncul bukan karena kurang kemampuan, melainkan karena hari-hari berjalan tanpa arah yang jelas.
Seorang muslim diajarkan untuk hidup dengan ritme yang teratur. Bukan kaku, tetapi terarah. Ada waktu untuk ibadah, ada waktu untuk bekerja, ada waktu untuk keluarga, dan ada waktu untuk beristirahat. Keseimbangan inilah yang membuat hidup terasa ringan dan bermakna.
Waktu dalam Pandangan Islam
Al-Qur’an berkali-kali bersumpah dengan waktu: pagi, siang, malam, bahkan masa. Ini menunjukkan betapa berharganya waktu dalam pandangan Islam. Hari seorang muslim idealnya tidak dimulai dengan kebingungan, tetapi dengan niat yang jelas tentang apa yang ingin dilakukan.
Ketika seseorang bangun tanpa rencana, hari akan mudah diisi oleh hal-hal yang tidak penting. Sebaliknya, ketika ia memulai hari dengan kesadaran, setiap aktivitas menjadi bernilai.
Ritme Harian yang Membawa Ketenangan
Shalat lima waktu sesungguhnya adalah “penanda waktu” alami dalam hidup seorang muslim. Dari Subuh hingga Isya, hari sudah terbagi dengan sangat rapi. Jika di sela-selanya diisi dengan pekerjaan, belajar, dan interaksi keluarga, maka waktu terasa cukup.
Masalah muncul ketika seseorang mengabaikan ritme ini. Tidur terlalu larut, bangun kesiangan, bekerja tanpa jeda, atau menghabiskan waktu tanpa tujuan. Perlahan, hidup terasa kacau dan melelahkan.
Mengurangi Hal yang Menghabiskan Waktu Tanpa Sadar
Banyak waktu terbuang bukan pada pekerjaan besar, tetapi pada kebiasaan kecil yang berulang. Terlalu lama di media sosial, menunda pekerjaan, atau melakukan sesuatu tanpa urgensi membuat hari terasa cepat habis tanpa hasil yang berarti.
Islam mengajarkan kesadaran (muraqabah) dalam setiap aktivitas. Kesadaran inilah yang membantu seseorang memilah mana yang penting dan mana yang bisa ditinggalkan.
Menyusun Hari dengan Niat, Bukan Sekadar Jadwal
Mengelola waktu bukan hanya soal membuat daftar kegiatan, tetapi soal meluruskan niat. Ketika bekerja diniatkan sebagai ibadah, ketika mengurus keluarga diniatkan sebagai amanah, bahkan ketika beristirahat diniatkan untuk menjaga kesehatan, maka seluruh hari menjadi bernilai pahala.
Inilah yang membedakan manajemen waktu seorang muslim dengan sekadar teknik produktivitas biasa.
Penutup
Hidup yang teratur bukan berarti hidup yang sibuk. Hidup yang teratur adalah hidup yang sadar. Sadar ke mana waktu pergi, sadar apa yang dikerjakan, dan sadar untuk siapa semua itu dilakukan.
Ketika waktu dikelola dengan niat yang benar, hari-hari tidak lagi terasa melelahkan, tetapi terasa penuh makna.
Leave a comment