Mengapa Allah Memerintahkan Kita Bershalawat?
Makna QS Al-Ahzab:56 yang Jarang Dipahami
Pernahkah kita bertanya, mengapa Allah sendiri dan para malaikat bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ — lalu Allah memerintahkan kita melakukan hal yang sama?
Ayat ini bukan sekadar perintah ibadah. Ini adalah undangan langsung dari Allah agar hati kita terhubung dengan Rasulullah ﷺ.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
(QS Al-Ahzab: 56)
Urutan dalam ayat ini sangat istimewa. Allah menyebut diri-Nya terlebih dahulu. Lalu malaikat. Setelah itu barulah orang-orang beriman.
Mengapa demikian?
Karena Allah sedang menunjukkan kepada kita betapa mulianya Nabi Muhammad ﷺ di sisi langit. Sebelum kita diperintah bershalawat, Allah sudah melakukannya. Para malaikat sudah melakukannya. Seakan Allah berkata kepada kita: “Ikutilah apa yang terjadi di langit.”
Lalu, apa makna shalawat dari masing-masing?
Shalawat Allah kepada Nabi berarti rahmat, pujian, dan pengangkatan derajat beliau di hadapan seluruh makhluk langit.
Shalawat malaikat berarti doa dan permohonan ampun bagi Nabi dan umatnya.
Sedangkan shalawat kita adalah cara Allah menghubungkan hati kita dengan Rasulullah ﷺ.
Inilah yang sering tidak kita sadari: shalawat bukan hanya dzikir di lisan. Shalawat adalah jalur koneksi ruhani antara kita dan Nabi Muhammad ﷺ.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.”
(HR Muslim)
Bayangkan, satu kali shalawat yang ringan di lisan, dibalas dengan sepuluh rahmat dari Allah. Tidak ada amalan lain yang sebanding mudahnya, tetapi sebesar ini balasannya.
Tidak heran jika para ulama mengatakan bahwa shalawat adalah amalan yang paling cepat menghadirkan ketenangan hati.
Mengapa?
Karena saat kita bershalawat, kita sedang mengingat sosok yang paling dicintai Allah. Mengingat Nabi membuat hati merasa dekat dengan kasih sayang Allah. Pikiran menjadi lebih tenang. Hati yang gelisah menjadi lembut.
Di zaman modern ini, banyak orang mengalami kecemasan, overthinking, dan kelelahan mental. Tanpa disadari, shalawat adalah terapi ruhani yang sangat sederhana namun sangat dalam pengaruhnya.
Sayangnya, banyak di antara kita yang menganggap shalawat hanya sebagai rutinitas lisan. Dibaca cepat, tanpa makna, dan hanya dilakukan saat di majelis atau acara tertentu.
Padahal, shalawat bisa menjadi teman harian kita.
Cobalah mulai dengan cara yang sangat sederhana:
Setelah shalat, baca shalawat 10 kali.
Saat merasa cemas, ucapkan shalawat perlahan.
Dalam perjalanan, jadikan shalawat sebagai dzikir.
Sebelum tidur, baca shalawat 100 kali.
Beberapa bacaan shalawat yang bisa diamalkan:
Allahumma shalli ‘ala Muhammad.
Atau shalawat Ibrahimiyah yang kita baca dalam shalat:
Allahumma shalli ‘ala Muhammadin wa ‘ala aali Muhammad, kamaa shallaita ‘ala Ibraahiim wa ‘ala aali Ibraahiim, innaka hamiidum majiid…
Shalawat tidak membutuhkan tempat khusus, waktu khusus, atau kondisi khusus. Ia bisa dibaca kapan saja. Di mana saja.
Dan yang terpenting, shalawat perlahan akan menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah ﷺ di dalam hati kita.
Jika Allah dan para malaikat saja bershalawat kepada Nabi, bagaimana mungkin kita jarang melakukannya?
Mungkin, yang kita butuhkan bukan amalan yang berat. Tetapi amalan yang menghubungkan hati.
Mulailah hari ini. Mulailah dengan satu shalawat. Lalu rasakan bagaimana hati menjadi lebih tenang, lebih lembut, dan lebih dekat kepada Rasulullah ﷺ.
Perbanyak shalawat. Dekatkan hati kepada Nabi. Karena di situlah letak ketenangan yang sering kita cari.
Leave a comment